Sajak – Balada Ciu Cahyono

Di Jalan Mana Kita Berpisah

bila malam tak juga robah
dan dada menemu pecah
tolong jangan buat keluh
menjadi lepuh

di tepi jalan tegaknya duri
kita lompati
tapi debu siapa sangka
dari rumah kita bawa
dalam genggam
dan pejam mata
makin nampak ini luka

bila malam tak juga robah
dan dada menemu pecah
simpan dulu itu tamparan
hingga lewat satu tikungan

-januari, 2011-

Identitas

jika kau bertanya
apa perlu memelintir bohong
jawabnya tergantung

jika kau bertanya
apa perlu menyogok garong
jawabnya tergantung

jika kau bertanya
apa perlu mencontoh nyolong
jawabnya tergantung

jika kau bertanya
apa perlu membungkam corong
jawabnya tergantung

yakni
tergantung pada siapa
kau bertanya

-januari, 2011-

Sajak Pedang
kepada: krt sujonopuro, halim hd

langkah manusia bisa menjadi pedang
yang membuat lawan tungganglanggang
tapi jika nanti alpa menyambang
lupa mana tajam ujung terpegang
roboh membuta di jalan benderang

-januari, 2011-

Sajak Dalam Gendongan

kuhisap jempol ibu pertiwi
sambil kudengar dendang
ibu sendiri
terlukis kami jelata
dicekik-himpit tak berdaya

kuhisap jempol ibu pertiwi
sambil kueja mata
ibu sendiri
tergambar lemah untuk sekedar
meneteskannya

kuhisap jempol ibu pertiwi
sambil kutepuk lembut pipi
ibu sendiri
dan padanya kukata:
pahit ini mengusir kantuk
ibu, dalam gendonganmu
ajari aku mengutuk

-januari, 2011-

* Sepilihan sajak dari halaman facebook: Sajak Balada Ciu Cahyono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: