Sajak – Balada Ciu Cahyono

Sajak Seorang Kakek

dihadapinya rumah bordil
saat malam telah lalu
dan sedu
masih juga melilit
segala dada segala pahit:
tuhan
adakah ia di dalam?

berdiri seorang saja
jalanan sepi subuh mati
dan kepala mengembara
terajam segumpal muram:
tuhan
adakah kau di dalam?

lalu didengarnya adzan
bagai godam goyang titian
menangis hilang tujuan

maka
dihadapinya rumah bordil
dengan sebaris doa
dan tepat di bawah dagu
moncong bedil
muntahkan peluru

-desember 2010-

Tamri Nagih Janji

Tamri yang setengah waras
ikut nyoblos tempo hari
datang paling pagi pakai jas
dengan dasi diikat rapi

segalanya tampak pantas
tak satu hal pun jadi aneh
pas strip atau lagi waras
Tamri selalu tampil nyeleneh

tiba giliran ia ke bilik
perkara kok jadi pelik
umumnya nyoblos semenit kelar
sedang Tamri belum keluar

lima menit masih di dalam
hansip mencoba gertak
suasana tps berubah lebam
saat Tamri balas teriak:
aku sedang nagih janji
pada foto ini!

-desember, 2010-

Penjara

sembilan bulan kau disidang
sebelum ketuban itu pecah
lalu kau merasa keluar
padahal sesungguhnya
kau masuk

-november, 2010-

Mentari, Siapa Ayahmu?

sewaktu pulang kampung
kujumpai ia di warung
tempat terakhir kukira
setelah kota menyebutnya
pelacur tua buruk rupa

di sini segalanya dimulai
pada tepian kali yang sepi
dekat rel kereta api
denyut dan nafas disambung
kembali

kuamati dadanya yang jatuh
matanya pun tak lagi penuh
sedang tulangtulang rapuh
tak kukuh menyangga tubuh
yang hampirhampir mau rubuh

petang ini tak ada pengunjung
selain aku
dan bocah dengan kerudung
di sudut ia duduk termenung

+ nani, siapa dia?
– mentari. kuberi ia nama
+ siapa ayahnya?
– tanya saja padanya

mendengar bahan bincangan
mentari mengangguk pelan
kepadaku tatap dilayangkan

+ mentari, siapa ayahmu?
– tanya saja pada dirimu

maka kupandangi matanya
bagai kujelajahi angkasa

-november, 2010-

Tak Kudengar Pintu Diketuk

kuciumi tuhan
kuciumi tuhan
kala ia membezuk
bawa air seteguk

kuciumi tuhan
kuciumi tuhan
saat ia mengangguk
usai kupinta peluk

kuciumi tuhan
kuciumi tuhan
waktu ia membujuk
lusa kembali menjenguk

-desember, 2010-

Jalani Jalan

sepanjang jalan ini
kupikirkan diriMu
sambil kupikirkan diriku
sendiri. terhenti langkah
di halte aku terengah

sepanjang jalan ini
kupikirkan diriMu
sambil kupikirkan diriku
sediri. terbingkai kalah
di halte aku tengadah

-desember, 2010-

Mas Kawin Mas Kaboer

takdirnya Kaboer jadi penyair
jidat botak kebanyakan mikir
ciri khas tak dapat ditiru
begitu lahir sudah begitu

hidup melarat dilakoninya
tumpangtindih hutang tak apa
semua maklum harga puisi
sekedar untuk makan sehari

ketemu ia dengan Sukemi
anak tetangga pedagang bakmi
pacaran tak perlu lama
kata mertua takut jadi dosa

hari yang dinanti telah tiba
keduanya nikah di gedung k.u.a
dengan mas kawin sebuah puisi
sangat indah kata Sukemi

seminggu berlalu mertua bilang:
apa kamu tak mau berjuang
cari kerja di kota besar
orang berupah tak mungkin lapar

ada bantah dari mulut Kaboer:
penyair bukan penganggur!
isteriku, ayo kita kabur
tak mau aku cakap melantur

Kaboer bersumpah taklukkan kota
cukup dengan isi kepala
segepok puisi belum ditulis
yakini hidup mengecap manis

kaki mereka memijak kota
kesana kemari tanpa daya
isi kepala tak juga nyata
padahal perut tak bisa ditunda

ya Kaboer ya Sukemi
hidup tak seindah puisi
lapar dan demam berhari-hari
keduanya pun menemu mati

mayat mereka sungguh nestapa
teronggok biru di sudut t.p.a
ditemukan tak sengaja
oleh penyair muda cari nama

ada satu mencolok mata
kedua mayat genggam bersama
selembar kertas coklat tua
baris puisi nimbulkan suka

penyair muda bernama Jaka
sambar kertas tak ada rasa
biarkan mayat busuk sekalian
pulang kampung jadi tujuan:
Sumi! Sumi! Sumi!
maukah kau kunikahi
dengan mas kawin puisiku ini?

-desember 2010-

Walahlah Walah

kucari ladalada pada lembah
tapi kutemukan mereka pada lidah
berebut titah

omongan lebih buruk dari kicau
sekedar cecar kacaubalau

kucari ladalada pada lembah
tapi kutemukan mereka pada lidah
bersambut kilah

-desember, 2010-

Ludah Semir Lidah

lagumu bukan kilau
tak pula lihai
membentuk pukau
malah lukai
menjadi galau

dan ludahmu itu
mengapa sewarna abu
selalu

-desember, 2010-

Berkumurlah Dengan Benar

berkumurlah dengan benar
sebab jika tidak
ludahmu bisa cemar

berkumurlah dengan benar
sebab jika tidak
lidahmu bisa melar

-desember, 2010-

Diskursus Pelanggaran

selihai-lihai ludah
langgar lampu merah
kena semprit juga
itu lidahnya

-desember, 2010-

Sajak Sebab Akibat

jika ludah nerjang ke dahi
lidah itu mengundang maki

-desember, 2010-

* Merupakan sepilihan dari sajak-sajak baru dalam halaman FB: Sajak Balada Ciu Cahyono.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: