Sajak – Balada Ciu Cahyono

Jakarta

untukmu
kutuliskan beberapa sajak
saat anjing menyalak
dan aku mabuk berat
oleh bedakmu yang nyengat

jakarta ya jakarta

untukmu
kutinggalkan beberapa sajak
saat anjing tergeletak
dan kau berkacak pinggang
menatapku beranjak pulang

-november, 2010-

Tak Ada Jatah Pisau Buat Ibu

ibu pulang dari pasar dengan duka
di dapur ia terisak
kutanya, maka jawabnya:
para penyair memborong pisau
tanpa itu mereka risau

aku ingat ribuan pisau
hanya satu tajam diasah
sisanya sekadar latah

begitulah
tak ada adegan yang lebih pilu
dari adegan ibu
dan pisau itu

-blora, november 2010-

Balada I

saat kaubuka lembaran kertas
kau akan tahu cerita nampak deras
sebab balada itu
tegap di jalan berliku

saat kaubalik lembaran kertas
kau akan tahu cerita makin gegas
sebab balada itu
ditancap sebagai rambu

saat kaututup lembaran kertas
dan merasa cerita telah pungkas
maka jawablah dalam kalbu
ke mana arah balada mengantarmu

-blora, november 2010-

Balada II

ribuan sudah balada ditulis
mengabarkan orang-orang jatuh:
terguling, terinjak, terbunuh

wahai, penyair
adakah kau di samping mereka?

ribuan sudah balada ditulis
menceritakan orang-orang menang:
diangkat, disanjung, dikenang

wahai, penyair
adakah kau dalam diri mereka?

-blora, november 2010-

* Merupakan sepilihan sajak-sajak dalam halaman FB: Sajak Balada Ciu Cahyono.

KUPANGGILI NENEKMOYANG

sambil kubayangkan mereka ditendang
dan buahdada ditepuk serupa gendang
kupanggili kau, wahai, nenekmoyang
dengarlah ya dengarlah
cucumu mengerang dengan dada terbelah
lihatlah ya lihatlah
cucumu terjengkang tak bisa tengadah

tolonglah mereka, wahai, nenekmoyang
tolonglah

seumpama pohon mereka telah tumbang
seumpama kuncup mereka tak jadi kembang
seumpama kumbang tak ada arah mereka terbang

tolonglah mereka, wahai, nenekmoyang
tolonglah

mereka tiba di malaysia bukan sebagai babu
tapi sebagai sasaran tinju
wajah mereka bopeng bukan dari lahir
karena Tuhan tak sekeji majikan pandir

puluhan tahun telah lewat
mestinya banyak hal mereka buat
tapi jangankan mendapat hormat
malahan mereka hampir sekarat

tolonglah mereka, wahai, nenekmoyang
tolonglah

sebab, untuk apa disebut serumpun
jika derita mereka turuntemurun!

-blora, 2010-

MARYAM

maryam. maryam. maryam

di tikungan ini kau menolak gerimis
sepuluh tahun lalu
namun, makin deraslah hujanku

maryam. maryam. maryam

tahulah aku kini, bukannya usai
jalan kita malah belum dimulai
dan dengan langkah teramat masai
kutinggalkan segala yang tiada gapai

maryam. maryam. maryam

di tikungan ini kau menangis
di tikungan ini langkahku habis

-solo, 2010-

SAJAK SUPIAH DAN PARTO GEMBLUNG

jam tiga Supiah ke kamar mandi
sehabis melayani tak tidur lagi
setumpuk baju lusuh mesti dicuci
menjelang subuh ia sediakan nasi

Parto Gemblung nama suami
tukang sapu di taman sarbini
jam lima ia berjalan kaki
lewat jalan pemuda yang masih sepi

Parto Gemblung bukan nama kandung
disebut gemblung kerna suka bersenandung
duduk mencangkung menatap mendung

Parto Gemblung punya anak jangkung
tukang palak begitu ia tersanjung
bolos sekolah nyimeng di warung
nantang tawur jika tersinggung

wahai Supiah yang penyabar
kenapa anakmu suka bertengkar
wahai Parto yang baik hati
kenapa anakmu tak tahu diri

Parto Gemblung mengayun sapu
daun berderak terbanglah debu
sesekali ia menggeliat ragu
maklum umurnya enam satu

rumahnya bambu bukan tembok
pintunya kayu tak bergembok
tiap malam ia minta kerok
pinggangnya kena encok

sewaktu suami nyapu
supiah jadi babu:
nyuci piring milik juragan
pecah satu dapat amukan
nyuci popok bayi majikan
belum kering terima tendangan

nasib nasib nasib

jaman sudah begini kebalik
kabar koran dan tv bikin bergidik
tak ada lagi suguhan mendidik

jaman sudah begini parah
yang benar disebut salah
yang pasrah makin difitnah

malang malang malang

wahai supiah yang penyabar
kenapa hatimu tak lagi mekar
wahai parto yang baik hati
kenapa akalmu seciut ini

di malam udara pahit gersang
kalian mengangkat parang
setan melayang menyanyi girang
nyawa anakmu pun segera terbang

ah betapa dosa itu amat telanjang !

-blora, ‘08-

Jam Satu Pagi, di Depan Pabrikmu

Di manakah jejakmu wahai perempuan
sedang kelebat bau tembakau
ngendon di hidung mampetku
dan rambutmu yang biasa berkibar
menguasai akalku tanpa sabar

Di manakah jejakmu wahai perempuan
sementara leherku hampir patah
menyimak pagi dalam rumunan
para buruh dibayar murah

Di manakah jejakmu wahai perempuan
ketika telingaku mendengar kabar
pagi ini tubuhmu ditawar

-oktober, 2010-

Sajak Soal Bencana

bencana tak hanya di jaman kita
kejadian itu lumrah adanya
manusia mati tak perlu diduga
sebab tuhan selalu punya cara
kita tinggal mencatat hikmahnya
agar mengingat siapa paling kuasa

meminta tuhan agar bencana reda
adalah perbuatan bodoh
lagi cengeng
sebab tuhan tahu jalan segala
tak bakalan ia ceroboh
atau melenceng

yang kita perlukan cuma merendah
karena kita memang makhluk lemah
mengapa pula tuhan kita perintah

bencana bukan hanya gunung membara
atau gulungan maut dari samudera
bencana menyelinap di mana-mana
tak kita kenal tanda dari mukanya

bagi sopir bencana di lingkar setir
hanya gara-gara debu sebutir
bisa mati dengan tubuh terpuntir
bagi wartawan bencana di kolom berita
hanya gara-gara judul agak peka
bisa mati dengan tubuh dianiaya
profesi lainnya pun tak ada beda
petani, koki, atau wasit sepak bola
bisa mati dalam remehnya perkara

bencana bisa datang kapan saja
tak kenal jabatan tak pandang usia
ia mondarmandir bagai kondektur
membangunkan kita di saat tidur

-november, 2010-

Kartu Pos

berbekal selembar kartu pos lusuh
kuhampiri kau dengan langkah penuh
kantormu masih sepi, masih pagi
berharap pantas bagiku menyapamu
lalu mengobrolkan masa lalu

ciu, apa yang kamu mau?

aku suka kau tak melupakanku
maka jawabku tak perlu ragu:
sekedar mengirim kartu pos
obat bagi hati yang keropos

kamu tersipu, memandangiku
wahai, aku ingin tahu siapa guru
ajari senyum macam begitu

sepuluh tahun lalu kau amat nakal
tapi kini anggun tak ada binal
bedakmu pun tak lagi tebal
kulit pipimu terlihat kenyal
segalanya asli pagi ini
tak ada pulas warnawarni
lalu pandangku turun ke dagu
tempat terbaik jinakkan rindu

kantormu masih sepi, masih pagi
dan kau rela masa lalu terkuliti

sembari biarkan memori nerobos
kutatap juga kilau sebentuk bros
tersemat di baju kerja
letaknya tepat di bagian dada

ciu, kamu bawa kartu pos itu?

kucabut kartu pos dari saku
kuulurkan padamu dan pintaku:
tolong tuliskan alamat
kemana seharusnya ia ditambat

ciu, kamu tak butuh perangko
kerna langkahmu tlah buatku k.o

kantormu masih sepi, masih pagi
dan kartu pos lusuh ini
masuk saku kembali

-november, 2010-

Alegori

makam
jika kaulacak
belumlah sudah

tamat
jika kaulacak
sudahlah belum

-november, 2010-

Ancaman

awas kalau kamu
jadi awas

-november, 2010-

KAMI BUKAN RAKYAT

Kami bukan rakyat
karena rakyat sudah mampus
sejak lama
Kami cuma jelata
yang terhisap dan tertipu
topeng seribu wajah
mulut bisa, nafasnya fitnah
Kami digiring. Berkeliling
kami tajamkan cakar dan taring
demi kursi dan panji-panjimu terhormat
lalu kami dibiarkan melarat
berebut nasi dan garam tinggal sekerat

Kami bukan rakyat
karena rakyat sudah mampus
sejak lama
kami cuma ondel-ondel pengisi pawai
diarak jadi tontonan pemikat
tertawa kemudian menangis
kelelahan dan terabaikan

Kami bukan rakyat
karena rakyat sudah mampus
sejak lama
kami cuma botol-botol bowling
yang dipasang untuk dirobohkan kembali

Kami bukan rakyat
karena rakyat sudah mampus
sejak lama
kami cuma sebuah kata hampa
yang dikutip tanpa punya daulat

Kami bukan rakyat
sejak pejabat jadi penjahat!

-solo, ‘03-

DARI BERANDA KUDENGAR PIANO MENYANYIKAN FUR ELISE

Lagi-lagi kaumainkan Für Elise dengan nada dasar rendah
setelah hujan deras membekukan genteng rumah
seusai pertengkaran kita berujung mata basah
ketika bayi kita menggeliat tanpa ramah

Lagi-lagi kaumainkan Für Elise dengan nada dasar rendah
setelah kaumaki senja yang tak lagi indah
seusai kaudepak daun pintu yang tampak makin payah
ketika bayi kita menyepak-nyepak bantal dengan marah

Lagi-lagi kaumainkan Für Elise dengan nada dasar rendah
setelah kautatap jarum jam dinding yang seolah tak berubah
seusai kaubuang wajah agar kata-kataku patah
ketika mata bayi kita melintasi kaca jendela yang hampir pecah
dan berpikir: Malam ini, kemanakah perginya Ayah?

-solo, 2004-

Sekilas Info

daging babu sekarang tak dapat harga
majikan bebas milih bagian mana
ditempeleng atau diperkosa

nasib jelata tak ada bedanya
selalu jadi obyek belaka
dijual dilelang direkayasa

jalan raya penuh maki dan cerca
gerbang kampus bagai pintu neraka
di dalamnya calon praja bikin kecewa

beranda kantor dijangkiti dusta
selingkuh sudah mirip berkas kerja
korupsi bukan satu-satunya perkara

indonesia, beginikah rupamu seusai merdeka

kelas-kelas kini berisi kecoak dapur
mengumpat jadi jadwal teratur
buku pelajaran untuk alas tidur
pulang sekolah langsung kabur
bisanya tawur dan bertelur
bagaimana tidak hidupnya kan ngawur

indonesia, mengapa wajahmu begitu hancur

Yth. Pelacur

pelacur yang haus
pelacur yang rakus
jangan doakan lekas mampus

di sungai orang gampang kena tahi
di hutan orang gampang kena duri
tidakkah kalian mengerti
bila hidup bukanlah mimpi terlunasi

lelaki datang dan pergi
ninggalkan nyeri
inginnya lari
tapi angin punya mau sendiri
bukan mati bukan sembunyi
barangkali nyanyi tak mau pasti

pelacur yang melarat
pelacur yang mencegat
jangan doakan cepat sekarat

di pantai orang gampang temukan pasir
di laut orang gampang temukan air
masihkah kalian tak sadari
bahwa hidup tak selalu ternikmati

maka simpanlah caci dan benci
sebab mereka ini
kelak bisa jadi sanak famili

Anak

ada ucap yang tak boleh kita lupa
sewaktu petang menyambang pinggir kota
di pondokmu. di pondokmu aku mampir

tali tas kulit di pundak masih tersampir
seperti enggan aku melepasnya
tapi matamu, sungguh, dari iba ia tercipta

ada ucap yang tak boleh kita lupa
sewaktu kausambut apa yang kubawa
di pondokmu. di pondokmu penuh getir

“Sembuhkan cucumu dengan hasil rampokku.”

ada ucap yang tak boleh kita lupa
antara anak dan bapaknya

Pantun Pantunan

buah durian dimakan ulat
main layangan pakai kawat
jika pejabat ninggalkan rakyat
pembangunan pasti terlambat

beli manggis rasanya sepat
anak gadis minta kawin cepat
jika pejabat mengekang rakyat
mau dibuang ke mana itu pendapat

makan emping di tengah rapat
jangan sering minum jamu kuat
jika pejabat abaikan rakyat
pada siapa kebijakan berkiblat

anak demam cepat beri obat
tengah malam baik untuk sholat
jika pejabat membantah rakyat
tandanya negri bertambah gawat

tetangga mati kita melayat
janganlah lupa pada sahabat
jika pejabat mencuri uang rakyat
itu namanya: Keparat!

jika ada yang merasa pantun ini ngelantur
mungkin ia yang tak mau jujur
jika ada yang merasa pantun ini tak berkenan
bikin saja pantun tandingan

Sajak Bagaimana

Bagaimana negri ini bisa kaya
Jika korupsi jadi menu utama
Bagaimana negri ini bisa adil merata
Jika penguasa dan pengusaha main mata
Bagaimana negri ini bisa sentausa
Jika anak sekolah membolos demi narkoba
Bagaimana negri ini bisa jaya
Jika muda-mudinya cuma mikirin paha

Bagaimana negri ini bisa hebat
Jika anak-anak belajar mengumpat
Bagaimana negri ini bisa bermartabat
Jika kebenaran tak mendapat tempat
Bagaimana negri ini bisa selamat
Jika pejabat mengkhianati rakyat
Bagaimana negri ini bisa siap menyongsong kiamat
Jika televisi penuh adegan mencubit pantat

Bagaimana negri ini bisa makmur
Jika makin banyak orang yang menganggur
Bagaimana negri ini bisa tidak hancur
Jika pimpinan dan yang dipimpin tak pernah akur
Bagaimana negri ini bisa tetap subur
Jika makin banyak orang yang takabur
Bagaimana negri ini bisa tidak makin mundur
Jika nasionalisme buru-buru masuk kubur

Bagaimana negri ini bisa berdikari
Jika kita menghina produk dalam negeri
Bagaimana negri ini bisa dihormati
Jika kita jadi babu di rumah sendiri
Bagaimana negri ini bisa lestari
Jika sastra dan budaya makin dijauhi
Bagaimana negri ini bisa dipuji
Jika partai-partai selalu ingkar janji

Bagaimana negri ini bisa hijau
Jika hutan-hutan menggeliat risau
Bagaimana negri ini bisa tidak kacau
Jika si miskin hatinya galau
Bagaimana negri ini bisa amanah
Jika tiap hari terdengar fitnah
Bagaimana negri ini bisa tidak susah
Jika perlu uang banyak untuk sekolah

Bagaimana negri ini bisa utuh
Jika warganya saling menuduh
Bagaimana negri ini bisa jadi suluh
Jika setiap dari kita suka mengeluh
Bagaimana negri ini bisa bersatu
Jika beda pendapat dianggap keliru
Bagaimana negri ini bisa maju
Jika masyarakatnya alergi buku

Bagaimana negri ini bisa tidak kotor
Jika selingkuh sudah masuk kantor
Bagaimana negri ini bisa tersohor
Jika beras saja kita mesti impor
Bagaimana negri ini bisa besar
Jika suara rakyat tak pernah didengar
Bagaimana negri ini bisa benar
Jika suami-isteri saling mencakar

Bagaimana negri ini bisa tegak
Jika alkohol gampang ditenggak
Bagaimana negri ini bisa henti bergolak
Jika separatisme dan bom terus meledak
Bagaimana negri ini bisa jadi negri terdepan
Jika sejarah cuma jadi hafalan
Bagaimana negri ini bisa jadi negri panutan
Jika calon-calon prajanya hobi keributan

Bagaimana negri ini bisa damai
Jika saudara sebangsa saling bantai
Bagaimana negri ini bisa henti berderai
Jika anarki telah jadi mata rantai
Bagaimana negri ini bisa berkelas
Jika anak-anaknya dibiarkan malas
Bagaimana negri ini bisa cerdas
Jika kritik sosial selalu ditumpas

Bicara tentang Indonesia
seperti bicara dalam cerobong asap
meski gelap dan pengap,

toh kita musti tetap berharap!

Sudikah Kaukirimi Aku Sayap?

Dapatkah kautolak dinginnya Desember?
Sementara peluit kereta
dari kaki bukit nyaring memecah sunyi

Kubuka kayu lapuk jendela
Purnama lemparkanku pada masa silam
yang kelam
pada masa lalu yang kelu

Kereta merangkak. Tertatih serupa bocah
Kereta itulah yang membawamu
ke tempat yang tak bisa kutuju
Menyodorkan bisu pada waktu-waktuku
dan rinduku cuma batu

Kututup jendela. Dan kusimak kembali
potongan lembar koran pada dinding:
sebuah gerbong terguling
dan kau pernah ada di sana
dan kini hanya senyap
yang aku dan kau rasa

Tuhan, sudikah Kaukirimi aku sayap?

Tuhan, Bunuhlah Kami Selagi Lelap

tuhan, kaurontokkan daun-daunan sebelum tua tiba
kaupatahkan ranting dan dahan yang tumbuh baru saja
kauluapkan lautan yang tadinya tenang
kautegur kami ketika dibuai lena dan senang

tuhan, di bawah ranjang kami simpan benci
di balik pintu kami pajang belati
di antara langkah-langkah kami keluh menjadi dendam
di antara berdiri dan duduk kami gumam menjadi geram

tuhan, bunuhlah kami selagi lelap
karena hanya ketika lelap
kami tak sedang gelap.

Maka Lahirlah Nira

Engkau lahir sewaktu negerimu gontai
banjir dan gempa dan tanah terburai
di antara teriak pemilu sekedar buai

Engkau lahir sewaktu negerimu gamang
segelintir orang berjingkrak girang
lusinan lain bermimpi kenyang

Engkau lahir sewaktu negerimu koyak
hutang luar negeri makin membengkak
maling berdasi tak henti terbahak

Engkau lahir sewaktu negerimu merasai pahit
mulut bapakmu tak juga lepas dari jahit
hingga suara kebenaran mirip kecipak parit

Betapapun, terimalah negerimu, Nak
Tumbuhlah sebagai seorang pendobrak
maka kelak, ubahlah kerak menjadi perak!

Isteri

jika pagi tiba kembali
temani aku minum kopi
sambil kau mengunyah roti
tataplah aku sebelum pergi

jika istirahat siang terasa sesak
mengapa pula hatimu tambah galak
jika suaramu meledak-ledak
bisa-bisa aku mati mendadak

jika petang kau pulang kantor
cepat-cepat lepaskan baju kotor
segera mandi dan sholat bersama
agar hidup jadi sempurna

jika kau masih punya waktu
bolehlah kau baca buku
asal serampung bab satu
kau mau pijit betisku

jika tiba waktumu nyenyak
aku menulis sajak
jika tiba waktumu bermimpi
aku simpulkan hari ini

Tak Sekali Ini

perempuan kecil mengulangi jalan
malam dan hujan coba ditaklukkan
tapi angin datangnya menyerang
jemari nyengkeram gagang payung
tubuh letih menahan limbung
kudakuda kaki mungil tak kuasa
bisabisa ia ngambang di udara

taufan. ia membenci taufan

dan payung besar itu terlempar
tatapnya ke langit tak ada gentar
langkahnya terus guyur ditembus
di tikungan terakhir kakinya mogok
di dalam lumpur sepatu serupa borok

jeblok. ia membenci jeblok

sepatu ia lepas agar cepat sampai teras
sepuluh langkah lagi tiba rumah
tempat terakhir bagi malam tak ramah
ia tersenyum di tengah lari
sebentar lagi segala tersudahi
tapi di teras ayah menanti
dengan mata duri ditumbuhi api
dan teriak bagai letusan gunung:
lagilagi kaubuang payung!

ayah. ia membenci ayah

-november, 2010-

Sajak Seorang Kawan

lupakan itu
sebab baju telah tanggal
dan kita serupa bocah nakal
bergulingan di atas rumput
sekedar membunuh rindu yang akut

waktu berlalu bagai sambaran belati
dalam terang ia menggores nadi
dalam gelap ia menikam hati
semua orang paham akan hal ini
maka tak perlu kita pungkiri
bila mimpimimpi mendesak diri

lupakan itu
sebab hidup tak butuh definisi
toh kita tinggal melakoni
dan jika rindu telah terobati
bolehlah kita berjingkat pergi

-november, 2010-

Perbuatan Tak Senonoh

pagi hari melayang di udara
para dewa upacara
berbarengan mulut menganga
menguaplah mereka semua
dan
hhaaaahh
jadi lagu pembuka

-november, 2010-

Kharim I

Sudahi mereka
Tak usah lagi kau ngelantur
dengan semua prempuan kau tidur

Kharim II

Lalu babunya Kharim hamil
Si isteri mati mendadak
Kharim bilang ia tersedak

-oktober, 2010-

Akan Tiba

isteriku,
bertahun sudah aku melukis
badai dan ombak dalam gerimis
kini tak perlu kau menangis
meski sajakku tinggal sebaris

isteriku,
akan tiba saat perahu menjauh
barangkali pagi menjelang tumbuh
maka untukmu kutinggalkan sauh
satu-satunya hal dapat kutempuh
agar hatimu mengunci keluh

-november, 2010-

MUNAFIK

dalam bola matamu yang berkaca
kubaca tulisan :
maafkanlah aku !

tapi tulisan itu pecah-pecah.

-solo, ‘99-

PERPISAHAN

sepi. kalian tahu apa artinya?
udara buntu. risau menyelinap
lamunan menggoda. senyum jadi ganjil
tertawa apalagi. menangis?
ah, makin ngeri
sendiri
pesawat telpon membatu
surat-suratmu beku. tak mampu bicara
potretmu kelu. ragu harus cerita apa
jendela hotel kulongok
malam lengang
bulan sabit pingsan. enggan siuman
lampu merkuri berjejer
menggiring jalanan basah kabut
menjauh
hingga subuh menemu sepi
surat dan potretmu masuk tas kembali
dua jam lagi kaukutinggal pergi.

-blora, ‘02-

KONSPIRASI

Kepada Angin, hujan berteriak:
Kau hembus diriku jauh dari taman yang ingin kutuju!
Kau membuatku menabrak kaca jendela milik seorang nenek
yang sangat menjaga kaca jendelanya!

Angin berdalih:
Dari kupu-kupu kudengar kuncup-kuncup
di taman tak mau kauterjang!

Hujan tak percaya pada Angin
Ia meminta maaf pada nenek itu
Dan membisikkan sesuatu…

-solo, ‘02-

AGITASI YANG MUNGKIN GAGAL

Bangun. Dan berikan ciumanmu
tapi jangan katakan apa pun
sebab rembulan sekadar batu
pun rintik hujan sekadar air
yang turun kembali

Bangun. Dan berikan pelukanmu
tapi jangan tatap apa pun
sebab malam sebatas gelap
pun angin sebatas desis
yang mengantar penyakit

Bangun. Dan terimalah mataku
dan dengarkan kataku:
tidur!

-solo, ‘02-

SAJAK BERPISAH 1

Aku ibarat burung, mengepak sayap
demi kokoh tulang dan bulu
terbang setinggi mungkin, mengikut arah angin.

Layaknya burung, aku pun mengenal pulang
hinggap kaki memijak tanah, suatu ketika.
Tapi tak bakalan seorang tahu
apakah sama pijak kaki kembali
dari asal bermula terbang.

-solo, ‘03-

SAJAK BERPISAH 2

Kamu datang kepadaku
selaksa rembulan siang pasi
bawakan kembang-kembang kertas ungu
untai airmata.

Janganlah begitu
sebab hati tak boleh berkawan resah
bukankah kesah hidup sungguh tak berarti
menipu pada akhirnya?

Ingatlah, aku tak suka bila melihatmu
seolah melihat puting beliung
dalam kertas foto
melihat harimau lapar
dalam kanvas
dan melihat air bah
dalam sketsa

-solo, ‘03-

SITTI

sitti,
aku ini cuma penyair sinting
hartaku tak lebih dari dua keping:
hati yang terlampau kering
langkah yang terombangambing

sitti,
ribuan kali kuyakinkan dirimu
segala mulutku adalah bual
mendapati diri sendiri pun aku mual

sitti,
tinggalkan aku

-solo, 2010-

SEORANG PEREMPUAN HAMIL BERBISIK PADA JANIN

aku berharap
kau lahir dari ketiak
seperti keringat yang terbit oleh panas

aku berharap
kau lahir dari paru-paru
seperti udara yang bebas masuk dan keluar lewat hidung

aku berharap
kau lahir dari mimpi-mimpi
seperti cerita musim basah yang banyak kutulis

aku berharap
kau tak melupakan betapa kau pernah merobek lobang sempit itu
jika kau harus lahir dari rahimku

-solo, 2004-

SAENAH, IBLIS, DAN KUBAH MAGIS

1
Oi, Saenah yang manis!
Sadapan getah wangi
aren matang, gading yang menguning
betapa sempurnanya! O, sempurnanya
Saenah intisari angkasa
berkerjap cahaya darinya
memantul-mantul di atas segala
yang bercokol di atas bukit kapur
kasmaran! Dan kasmaranlah pohon-pohon
tanah dan udara dan air
hamil ilham gara-gara Saenah.

Oi, Saenah yang lentur!
Karet mentah terentang
tak pernah keriput, tak akan
karena takdir slalu memutuskan:
betapa sempurnanya! O, sempurnanya
Saenah bergeliut, berayun ia
di antara cecabang pohon
dan semut-semut jantan pingsan
mabok kepayang di bawah lututnya
seusai menjerit:
“Aduhai, anak si pedagang sapi!”

Pabila malam ancang-ancang turun di lereng bukit
kuda-kuda mulai dihela penunggangnya.
Semua lelaki terkokoh bukit kapur melintasi Saenah
mencuri lihat pucuk-pucuk tubuh si jelita berkelok
indah kuningnya penuh titik keringat
dan mentari senja bersemayam di dalamnya.
Maka lelaki-lelaki ‘kan sukarela merontokkan dada
dan kuda-kuda ‘kan mengejang-erang:
“Sialan! Kenapa aku seekor kuda? Inginnya!
Inginnya aku menunggang Saenah
wahai, pelana yang lembut!”

Dan kuda si ayah meloncati semak
menghalau semua lelaki dengan sendirinya.
Katanya pada si gadis:
“Pulanglah! Kau sudah gadis
jangan lagi main ayunan. Tak baik!”
Saenah pulang. Di belakang punggung si ayah
cerucup dadanya melonjak gempar
dan si pedagang sapi melecitkan isi kepala:
Anakku tlah mekar!
2
Malam bergentayangan di bukit kapur.
Tanah-tanah hilang dan dedaunan sembunyi
menggeliat pelan di bawah bulan runcing.
Saenah tak juga pejamkan mata, kedap-kedip saja
hatinya. Ya, hatinya penuh sandera rasa:
“Siapa aku? Apa arti kata gadis bagiku, bagi bukit ini?”
Dunia tak lagi lapang dalam hatinya, bertanya
pada cermin bundar:
“Masa kecilku tlah pudar!”
Saenah melihat dirinya tak lagi lucu;
bukan lagi kanak-kanak ingusan.

Oi, Saenah! Betapa elok paras-tubuhmu
bergeliatlah, maka bergeliatlah seisi bukit kapur!

Udara dingin, menghajar si pedagang sapi.
Istrinya bagai si Emak saja; keriyut tong
berkarat di atas dipan, berselimut.

Ia mendongak jengkel pada langit.
Betapa cepat masa gembira seorang lelaki terlewati
dan segera sepi tak dapat dipungkiri.
Pada cicak di dinding kelu ia menggerutu,
ingat pada lusinan lelaki berkuda sore tadi:
“Apa bedanya aku dengan mereka?
O, birahi yang kelewat kuasa
Bukankah kami sama-sama lelaki berkuda?”

Oi, Saenah! Betapa elok paras-tubuhmu,
bergeliatlah, maka bergeliatlah seisi bukit kapur!

Dan dada si pedagang sapi bergetar.
Tangannya memalu-malu kepala tanpa ikat.
O, malam tambah begini gawat
merobek-robek akal:
“Apa bedanya aku dengan mereka?
Aku-lah lelaki penjinak binatang-binatang
yang terlihai, bukan mereka!”
Si pedagang sapi berdiri, pohonan melirik
curiga, cemburu. O, malam menikung hasrat!

Oi, Saenah! Betapa elok paras-tubuhmu
bergeliatlah, maka bergeliatlah seisi bukit kapur!

Saenah mengadu pandang,
mata ketemu mata dalam cermin
tersenyum
“Seorang gadis menjadi milik seorang lelaki
Aku-lah gadis yang seorang itu.”

Jendela terbuka, bayang-bayang tak lagi mengendap.
Berdiri kokoh, batang pohonan kalah.
Maka, bingkai jendela mengandung lelaki
yang seorang itu!
Dan tersenyumlah Saenah:
“Oi, lelaki, seorangkah dirimu?”

Angin bertiup mengacak helai-helai rambut si lelaki.
“Ya, aku-lah yang seorang itu
untuk Saenah. Wahai, pecahan bintang-bintang!”

Malam seperti penuh duri kawat, berjalinan
pohon dan tanah dan air malu bercemburu.
“Kaulah lelaki terkokoh di mataku, di hatiku!”
Saenah telah memutuskan:
“Inilah arti kata gadis bagiku dan bagi bukit ini
dan bagimu, wahai anak panah yang tiba-tiba
melesat dan menghunjami hasrat.
Aku pasti datang padamu!”

“Oi, Jelita! Tana, itu namaku.
Kini melesatlah
cepat ke arahku melangkah!”
Si lelaki membisik, lalu bergegas
kakinya melindas malam meranggas.
Saenah mengerling, katanya:
“Anak panah tak perlu nama
ia hanya perlu bersarang, lama dalam dada!”

Oi, Saenah! Betapa elok paras-tubuhmu
melesatlah, dan tujulah gerak anak panah itu!
3
Laun kakinya bergerak tuju pintu
lobang kunci ‘kan tunjukkan nanti
betapa Saenah sempurna bergeliat
bangunkan hasrat tiap lelaki.
O, malam tambah gawat.
Si ayah lupa diri keji mengerat
hatinya. Ya, hatinya! Kepayang
tak lagi siksaan berat.
Bagai merasai cetar-ceter cambuk
kepala dan hati berembug:
“Wahai, anak gadisku
bantu ayahmu luncurkan tetes lelakinya!”

Si pedagang sapi melirik sekitar.
Sepi senyap terisi lenguh nafasnya
bergetar!
Tapi Saenah tak ada di kamar.

“Wahai, Saenah! Kuda betina kiranya kau, gampang
lompati jendela; palang terlarang!”
Sambil mengutuk malam nyaring ia meradang.
Akal dan hati si pedagang sapi tergerus
ditumbuk godam palu makiannya tercetus:
“Saenah membangkang! Saenah telah jalang!”
4
Malam mendesirkan angin.
Wangi Saenah menidurkan rumputan padang.
Tana merentangkan tangan, dan Saenah mendekat
dalam gunungan hasrat, keduanya merapat
jatuh, bagai masa silam yang dinanti terpeluk
kembali tak bosan keduanya meneguk
dan meneguk!

O, tanah dan rumputan tak mau cemburu.
Mereka tahu, mereka tak mungkin merayu.
Hanya Saenah yang berhak memilih satu
hati dan tubuh tak ‘kan menipu.

Parasnya! O, parasnya meminta pun memberi.
“Wahai, lelaki tampan, aku cinta padamu!”
Maka, keduanya saling menerima noda
dan mendepak pancang palang dosa.

O, rembulan runcing, meski kau bergegas
tak buat Tana cepat berkemas.
“Aku lelaki pengembara.
Tanah kini terpijak ‘kan selalu jadi tanah mula.
Tanah esok terjumpa bukanlah tanah akhir.
Tapi hatiku tlah sampai. Padamu kutemu sarang
wahai, pecahan bintang-bintang!”

Oi, Saenah selembut beludru!
Di pusat padang tempat lelaki memacu kuda
kaupacu peluh gairah kecintaan di malam ini.
Dan anggur purba menetes pelan.
Cecaplah, mungkin esok hari tak kauhadapi lagi!
“Kau bukan lelaki tanpa tanah asal mula
Kau adalah lelaki matahari;
pancar yang tak ‘kan menemu usai
sekalipun lenyap ‘kan berulang kembali!”

Malam gulita dan bulan runcing saksikan dosa
sehabis hasrat terakhir bergulung angin menarik diri
rebahlah Saenah dan Tana mengucur keringat
saat mata panah si pedagang sapi melesat
cepat melibat paha si pengembara.
O, malam yang beranjak gawat,
tak inginkah kau sembunyikan Tana?

Si pedagang sapi melompati semak
lelaki-lelaki bukit kapur keluar dari sembunyi
Mereka mengalir deras.
“Hajar lelaki perampas ini!”
Dikuasai cemburu lelaki bukit kapur beraksi:
“Lelaki ini pencuri
kita belum pernah mengenal
dan tak kan pernah mengenal
setelah ini!”

O, bulan runcing tertingkap malam,
dapatkah kini kaukenal wajah Tana
lelaki tanpa tanah asal mula?
Bau darah mengisi padang pacuan kuda.
Dan wajah Tana hancur
serupa iblis!

Saenah pingsan sejak awal.
Ia tak tahu seberapa hancur wajah kekasihnya.
Oi, lelaki tanpa tanah asal mula
kini jadi makhluk bantaian
dan disoraki: Iblis! Iblis! Iblis!

Wahai, alam barzah
sudah tak sabarankah kau menerima Tana
lelaki tanpa tanah asal mula?
Lereng-lereng menjadi licin darah.
Tana menggeretang, melawan.
Ya, melawanlah!
Tapi jangan melawan si pedagang sapi.
Sekali-kali jangan, ia ‘kan tambah geram
dan kau benar-benar lumpuh nanti
tak dapat menahan tarikan maut.
Melawanlah; beradulah hanya di depan alam barzah.
Dan buatlah seisi kubur minder tengadah
oleh wajah hancurmu
(mungkin pula oleh tekadmu).
Wahai alam barzah
sudah siapkah kau menerima Tana
lelaki tanpa tanah asal mula?

Dan Tana melampaui segalanya
di malam ini
menjadi Iblis
ia lari zigzag ke pucuk bukit.
5
Oi, Saenah tak lagi kuasa tersenyum.
Terpenjara dalam kamar.
Dan kecewa terus saja ia kulum
dalam kenangan merah memar:
“Tanaku! O, malangnya kau, dan aku!”

O, siang tak ubahnya malam;
malam tak beda lorong neraka;
tak pada gelapnya ia menaruh takut
tapi pada jebakan-jebakan dan dalamnya
jurang dan tebing membarut.

Pada cermin bundar Saenah tak lagi angkat wajah.
Payah dan lelah hari-hari melaju lemah.
“Oi, Tana! Di sanakah kau kini?”
Pada celah kecil jendela matanya meluncur.
Tuju dan mengendapi pucuk bukit kapur.
Kelu hatinya tergempur
sementara lusinan lelaki datang bagai tambur
berkatalah mereka:
“Berikan Saenah padaku,
jangan lagi jatuh pada dosa .
Ia sudah mekar, butuh dipuja, dikecup,
tak boleh rontok helai mahkotanya oleh badai!”

Si pedagang sapi picingkan mata
berjanji tak ‘kan lepaskan secepat itu.
“Tanpa Saenah, hari ‘kan amatlah asing!”
Dan lelaki-lelaki berpikir:
“Si pedagang sapi inginkan anaknya sendiri!”
6
Embun turun terbias mentari.
Tana bangkit bercermin pada langit pagi.
“Celakanya aku! Malangnya aku!
Iblis pun ‘kan gentar menatap wajahku!
Celakanya Tana! Malangnya Tana!”
Tengadah wajah mata menancap pucuk langit.
“Keringkan darahku, o matahari!”
Tangannya terus merentang
dan bagai poros kakinya mengakar
jantung berkobar. Dan langit membuka cadar.
Tana tahu di mana ia ‘kan berpusar.
“Inilah tanah terakhirku!”
Maka berpendarlah tubuhnya berpendar
menunggu matahari benar perkasa.
Dan cahaya membentuk kerucut;
Tipis, tapi terkadang melecut.

Oi, lelaki tanpa tanah asal mula
tlah sampai pada tanah akhirnya.
“Iblis-lah aku!”
Dan dari matanya lecutan cahaya terlempar
memburu seekor kuda pengangkut kayu bakar.
Kuda meringkik lonjak, dan pecahlah matanya.
“Buta! Kudaku buta karenanya!”

Si tua pencari kayu tungganglanggang.
Kudanya menerabas belukar tepian jurang.
Ia menjauh dari pucuk bukit
dengan segenap ketakutan membelit
berteriaklah ia menggegar lereng bukit:
“Iblis membangun kubah! Kubah magis!
Kudaku buta karenanya!
Wahai seisi lereng bukit kapur!
Saksikanlah, betapa kuatnya Iblis
mengumpulkan cahaya, membentuk kubah,
melecutkannya ke arah kudaku.
Dan segera ‘kan ke arah kita pula!”

Gegerlah seisi lereng bukit kapur
berbareng keringat cemas yang deras mengucur.
Perlahan nyali mereka menciut mundur:
“Segala balas tlah diatur!”
7
Si pedagang sapi melirik pucuk bukit.
Hati terlilit takut.
Maka melangkahlah ia ke dukun sakti.
“Iblis itu ‘kan balas dendam padaku.
Kirimkan jampi-jampi padanya!
Bunuhlah, selagi aku sempat memintamu.
Bunuhlah Iblis!”

Dan jampi-jampi diterbangkan ke pucuk bukit
tapi slalu memantul ke langit
tak kuasa menembus kubah magis.
Si pedagang sapi mengepalkan tinju
tapi tak berani menatap kubah itu.
8
Oi, Saenah yang malang
oleh sebab kekasihnya malang!
Lelehkan airmata, alirkan kesedihanmu
pada pucuk bukit, pada kubah magis, pada Tana!
Tepat tengah malam Saenah menaburkan janji.
Melewati celah kecil jendela kayu
mata dan bibirnya mengirim tanda:
“Oi, Tanaku yang malang! Tunggulah
sebab aku bukan nenek-nenek dalam penantian.
Aku bisa lebih dulu memulai
dan membawaku tiba pada saat yang kuingin.
Aku bisa jalang!
Aku harus nyalang!”

Maka jebollah jendela, dan rontoklah monumen
kecongkakan ayah dan lelaki-lelaki bukit kapur.
Dan bagai menumpang angin malam Saenah kabur!
9
Bulan meruncing di atas langit telanjang
Dan Saenah mendekap wajah Iblisnya
yang hancur.

Oi, kabut yang turun lebih cepat!
Lereng bukit kapur bersekutu dengan malam.
Di mana kalian sembunyikan tubuhnya?
kemana kalian arahkan hatinya?
sejauh ini! Sejauh ini!

Oi, Saenah, anak pedagang sapi!
yang jatuh di kubangan dosa
tatkala birahi merangkaki kulit beludrumu
dan seusai kau kangkangi Tuhanmu demi Iblis
yang membangun kubah magis di pucuk bukit kapur sana
betapa malangnya! O, malangnya!

Oi, Saenah yang dulunya manis!
Tidakkah kaudengar telapak kaki lusinan lelaki terkokoh
berdentam geram menujumu;
persembunyian empat arah mata angin
mereka menyebar, mata menebar kilat dan paku-paku,
dan dilambungkanlah jampi-jampi.
Udara lebih padat menajam, berkeriyap dan mengamuk,
menusuk-nusuk daun-daun kelapa dan bambu-bambu
tumbang!
Ya, Saenah yang bermandi noda!
Mereka bernapsu menumbangkanmu malam ini
Maka, tidakkah kau berdebar mendengarnya?

Bulan meruncing di atas langit telanjang
Dan Saenah mendekap wajah Iblisnya
yang hancur.

Debu berderap mengiring telapak kaki mereka
aromanya tercampur tengik tahi dan rontokan kudis kuda.
Nyala obor timbul tenggelam menerabas dahan dan daunan.
Saat itulah si pedagang sapi berteriak:
“Bunuh siapa saja yang bersekutu dengan Iblis!
Bakar! Cincang!”

Oi, Saenah yang dulunya wangi!
Di manakah kausimpan-rapat bau tubuhmu
hingga ayahmu tak kuasa menemukan lipatan-lipatan kulitmu
sejauh ini! O, sejauh ini!

Bulan meruncing di atas langit telanjang
Dan Saenah mendekap wajah Iblis-nya
yang hancur.

Tengah malam mereka berkumpul tanpa hasil.
“Jampi-jampi tak kuat memaksa Iblis keluar!”
“Tak ada jejak kaki Saenah!”
Si pedagang sapi meradang:
“Pucuk sana, kubah magis itu;
satu-satunya tempat yang belum terjamah…”
Lusinan laki-laki terkokoh bukit kapur mundur,
tak seorang pun yang berani mendekati pucuk sana.
Si pedagang sapi membanting pandangan ke pucuk bukit.
Api obor memantul, berkilat dalam matanya.
“Aku yang ‘kan ke sana!”
Urat pipi si pedagang sapi mengejang.
Si istri tersaruk-saruk, roboh di bawah lutut lakinya.
“Sungguhkah itu?
Kau ingin bakar rambutmu sendiri?
Kau ingin didihkan darahmu sendiri?
Kau ingin robohkan tulang-tulangmu sendiri?
Kau ingin cincang dagingmu sendiri?
Kaulah yang bersekutu dengan iblis!”
Si pedagang sapi meludah. Geramnya:
“Tidak! Aku tak ingin punya menantu Iblis!”
Dan dengan gampang dijengkangkannya
perempuan itu ke tanah kering.

Oi, si pedagang sapi, cepatlah berlari
sebelum Saenah dan Iblis menjadi pengantin!

Bulan meruncing di atas langit telanjang
Dan Saenah mendekap wajah Iblisnya
yang hancur.

Oi, Iblis yang buruk muka, bergetarlah dadamu
dan dengarkan Saenah berucap:
“Sebelum ayahku sampai di mulut kubah magismu
ucapkan janji setiamu kepadaku, Iblis!”
Iblis mengangkat wajahnya dari benaman, dan jawabnya:
“Wahai Ratu yang elok, hamba ‘kan patuhi
segala titah Ratu.”

Oi, Saenah yang dulu manis, kini tambah manis;
kepala menyangga mahkota,
kubah magis itu, kilaunya menembus
mata si pedagang sapi buta, dan tergelincirlah ia
menuruni lereng dengan perut dan punggung.
Maka matilah si pedagang sapi.

Bulan meruncing di atas langit telanjang.
Tapi Saenah tak lagi mendekap wajah Iblisnya
yang hancur, dan yang berkata:
“Ratulah pemilik kubah magis ini!”

-solo, 2004-

BALADA PEROMPAK MANDO

1
Bulan purnama memantul pasi
di ombak pelan tenang bergoyang
Gerimis turun malam ini
memecah bayang yang mengambang

Mando angkat tangan kanan
empat anak buah kenakan topeng
Mando si kepala rompak mimpin kawanan
teguk minuman tepuk pipinya bopeng

Mesin perahu tengah malam meraung
laut tersibak geram, bukan senandung
pekik Mando menuju mendung
memantul jadi gaung

Kawanan rompak menyulut obor
empat lidah api menggeliat, bagai gincu menor
Dan sebotol besar minyak di tangan kiri
menanti, menanti perahu rompak henti

Babah Mehong terjaga ngeri
Pelacurnya terjengkang keluar ranjang
meringis, ikut berlari
Babah Mehong dan tiga awak kapal mengerang
Di geladak mereka saling pandang
Babah Mehong lututnya nyaris copot
kolornya melorot, juga nyalinya:
“Melawan perompak adalah percuma.
Menghindar bisa jadi sate
menurut artinya kere!”

Sahut si pelacur: “Berikan separuhnya, segera!
Jangan tunggu mereka lompat padaku!”

Dan Mando telah kenakan topeng
mencabut dua pedang. Bagai lonceng
suara bilah dan bilah saling tempa
tandanya perahu rompak mendekat
dan kawanan selincah tupai siap meloncat

Si pelacur beringsut, gemetar menuju kamar
meringkuk di kolong ranjang
merapal doa yang lama ia lupakan

Di geladak tiada doa, harap belaka
Babah Mehong dan tiga cecunguk bengong
Keempatnya melutut, dirajam takut
Tak seperti gerimis langit mencurah tipis
Mata Babah Mehong tebal menangis
Didengarnya suara kepala rompak menggelegak:
“Kau tahu apa yang diminta rompak?
Coba tebak apa dalam sebalik kain terpalmu!”

Dan perompak gendut dan perompak jangkung
membuka kain terpal tudung

Amboi! Ratusan kayu gelondong
hutan-hutan tlah jadi jerangkong!

O, Babah Mehong sepotong siput
tanpa cangkang pastilah kalut!
Dibantai gentar ia berkata:
“Bukankah sesama maling tak boleh mangsa?”

Mando menyebar seringai, siapkan tikai
“Oho! Kami bukan maling.
Malahan kami musuh para maling;
tikus-tikus pengecut mengerat jaring!”

Gemetar Babah Mehong dan awak kapal
Jawabnya: “Baik kalian ambil separuh kayu
dan biarkan kami segera laju.”

Kawanan rompak terbahak
Perompak gendut meludahkan dahak
“Dapatkah kujual lagi padamu kayu-kayu itu?”

Babah Mehong wajahnya mohon:
“Aku hanya pencuri kayu.
Maka ambillah kayuku.”

Mando sarungkan lagi pedang-pedang
tapi matanya merentang tegang
“Perompak tak merampas barang curian.
Tapi membakar kayu-kayu dalam kapalmu
kini jadi mauku.”

Wahai, Babah Mehong! Wahai, tikus ompong!
Di mana hendak kausembunyikan lolong
padahal laut tiada gorong-gorong!

Dan obor-obor teracung
Dan botol-botol minyak melambung
Maka berkobar api di tengah laut
menjadi lawan bagi mendung
menjadi sebab Babah Mehong nyaris semaput

Dari balik celah jendela kamar
pelacur melihat kawanan rompak kabur
bersama pekik sangar dalam samar
tinggalkan kapal yang bakal hancur
“Aku tahu mereka! Aku tahu mereka!”
jerit pelacur, berdiri, lalu berkelebat
menemu Babah Mehong yang digotong
awak kapal tak mau terlambat
Mereka mencebur ke laut
berbekal segelondong kayu tempat berpaut

Sambil meratap memeluk gelondong kayu
saksikan api membumbung, asap berkawan
pada mendung pada malam, yang kuyu.
“Fajar masih jauh. Derita semalaman!”
Pelacur menangis
oleh sebab tak tahu persis
arahnya nasib. Arahnya bakal menuju maut
lesap dari dunia; betapa carut marut
adalah nikmat milik ular penuh desis

Akal Babah Mehong masih koyak
tapi dendam mulai berderak
“Di sinilah kayu-kayuku mesti dijemput
dan segepok uang menyambut.”

Mendung makin tebal
kobar api tak lagi binal
bau asap bau laut
Babah Mehong lebarkan mulut
tertawa bagai raja:
“Tak sampai fajar derita terasa
kecuali Koman khianati kita!”

Pelacur mendengar suara mesin perahu
menderu cepat, masih sayup
Dan ia kan segera bagai kuncup
harap dan dendam jadi bongkah batu
“Siapa Koman?”

Perahu motor mutari Babah Mehong
Seorang lelaki berdiri di ujung perahu
bukan keris dan tombak dalam genggaman

Dialah Koman. Lelaki pegang senjata

2
Babah Mehong tak dapat uang
Koman menyimpan berang
dan Pelacur ngomong tanpa luang:
“Lima orang. Aku yakin mereka.
Minum di kedai tempat lacuran.
Yang mimpin pipinya bopeng
yang jangkung lehernya berkoreng
yang gendut suaranya cempreng.”

Sambil natap liuk api kapal bantaian
yang tenggelam pelan
Koman penuhkan kepal tangan
ada nyawa dalam genggaman!
“Tahukah kau di mana kutemukan mereka?”

3
Kawanan rompak melaju pulang
tuju seberang, pada tepi hutan rimba
Tak ada siapa di sana
cuma gubug kayu rapuh
lumut dan lintah jadi sepuh
Dari sana perompak berkuda seusai subuh
benar-benar pulang pada rumah
tapi kini fajar tak mudah ditempuh
Laut resah. Badai kambuh
Mendung kian tebal menyandera
Bulan mandul sinar meski tlah purnama
Bintang ikut khianat pula

“Kemana larinya orang macam kita?”
Kecuali Mando, mereka belalakkan mata

Tapi Mando bukan anak kecil
hati dan pikir tak mudah kecut
keberanian tak gampang surut dan kerdil
meski laut dan kesempatan tampak menciut

“Kita tahu laut tak ada batas.”
Teriak serak Mando serupa pecahan gelas

Perompak gendut menyahut cepat:
“Tapi laut tahu kita khianat
sedang kita tak tahu seberapa berat
laut telah melaknat!”

O, Mando yang perkasa!
Iblis mana bertengger dalam dada?

“Jika memang benar katamu
kenapa tak dari semula laut beri tahu?
Jika memang kita tak boleh menjamah laut
betapa debur ombak ini kumpulan pengecut!”

Mando tantang gelegak ombak
perahu motor dan badai saling tabrak
Dan Mando tahu bakalan menang

4
Semburat merah menyembul
di atas ukiran selaput mendung
pada horison pagi

Hiu, bocahnya Mando, nunggui bapaknya
masih berkuda dan lantas meloncat
begitu rupa. Begitu terpana.
“Oleh sebab apa kamu tegun di pantai?”

Ke ufuk timur telunjuk menuding
Dengan bapaknya Hiu ingin berunding:
“Dapatkah kulihat pagi dari lautan?
Dapatkah kusimak pantaiku
di tengah desah ombak kecipak sampan?”

Dan Perahu sampan menjauh
Hiu memutar kepala, berkata:
“Aku tak ingin cepat berlabuh
Betapa indah pagi. Merahnya tembaga.
Andaikan ibu tak cepat mati, Bapak.”

Selarik rindu merongrong dada
Adalah kelabu yang tebal
Kata Mando: “Kini tlah kaukenal
desah ombak, kecipak sampan
dan warna pantaimu dari kejauhan.”

Tapi Hiu belum lelah
“Betapa indah bapak, betapa indah.
Jangan dulu memutar arah!”

5
Gelak tawa dalam warung
O, malam dingin!
O, malam buih pantai!
Leleh busa bir ‘kan segera usai.

Koman datang seorang saja
“Kalian perompak jangan mengelak!”
Bukan. Bukan gertak belaka
Senjata siap dipicu
Ia tak mungkin keliru
ke arah mana peluru memburu

Perompak gendut maju. Lalu tersungkur
Yang lainnya mundur siap kabur
Tapi Mando bukan pengecut
Mendepak meja kedai ia bangkit
Seorang kawan tak boleh sakit
di depannya. Apalagi mati.

O, para rompak dan pencoleng
Lihatlah Mando serupa celeng
songsong Koman tanpa tedeng!

Bulan memukul mendung
tapi langit tetap legam
Lelaki bopeng keluar warung
mendedah kelam berteriak geram:

“Koman! Koman! Koman!
terjangkan pelurumu ke dadaku!”

Maka malam menderas genting
bukan sebab dawai berdenting
tapi timah berdesing

“Koman! Koman! Koman!
terjangkan pelurumu ke dadaku!”

Maka malam berkeriap kering
bukan sebab alunan suling
tapi pekik lolong melengking

“Wahai, Perompak! Penjara menolakmu
nerakalah kemana dirimu menuju!”
Koman menatap larian bocah
yang tersedu dan bersimpuh
dan menutup pancar darah
pada dada milik sang bapak.

“Bukannya kamu membunuh perompak.
Kamu membunuh seorang bapak!”
Suara Hiu pelan datar
tapi alam turut bergetar

O, Koman! Tunggulah saja sebentar
hingga saat Hiu tak ada gentar!

-blora, 2006-

Martil

Kukirimkan sebuah martil untukmu
dengan sebait sajak digagangnya:
aku tak mampu bubuhkan
tandatangan pada bulan
sebab bulan telampau kecil
ketimbang mata penaku yang mungil

-blora, november 2010-

Sebagian dari sajak & balada ini diambil dari Kumpulan Sajak-Balada:

1.Saenah, Iblis dan Kubah Magis
2.Tuhan Bunuhlah Kami Selagi Lelap

3.Sajak Keputihan

4.Kebakaran Jenggot

5.Kemaruk

Selain terbit dan termuat dalam beberapa buku, semua sajak dan balada ini bisa dibaca di blog-blog Ciu Cahyono.

Tentang…

Ciu Cahyono, terlahir dengan nama asli Adi Cahyono di Surakarta, 15 Mei 1977 Anak ke-tiga dari lima bersaudara. Jebolan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret Solo.

Selain menulis cerpen-puisi-novel, juga membesut naskah drama sembari menyutradarai beberapa pementasan Teater Jaring di Solo-Jogya-Semarang. Dua kali mementaskan monolog berduarasi panjang hingga pada pentas ke dua “Rumah Badai” 9 Mei di Taman Budaya Solo dinobatkan sebagai Monolog Terpanjang oleh MURI dengan durasi 10 jam 45 menit nonstop.

Karya-karya pernah dimuat di FEMINA, KARTIKA, RAKYAT MERDEKA, SOLOPOS, KOMPAS, TREN, PENA, RANESI, BLORA POS, DUTA PUSTAKA, beberapa buku antologi bersama, dan 4 buah novel (Star! Star! – Grasindo 2006, Kiss Me Again! – Pustaka Anggrek 2005, Dansa Sepanjang Gusen – Suara Media Sejahtera 2008, Sandiwara di Balik Layar – Suara Media Sejahtera 2008, Kisah Kafa dan Barus – Pustaka Insan MAdani 2007). Serta dua buah kumpulan balada-cerkas-sajak terbitan Roadman Foundation; “Saenah, Iblis, dan Kubah Magis” (2005), dan yang terbaru (2010) “Pantat”.

Kini, bersama seorang isteri dan bayi perempuannya, tinggal di Blora dengan tetap melambungkan ide-ide cerita sembari ditemani si bayi yang diberinya nama: Maka Lahirlah Nira.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: